<<Prev   - Indeks -   Next>>

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK

 

BAGIAN III
KEHIDUPAN DALAM KRISTUS

SEKSI I
PANGGILAN MANUSIA: HIDUP DALAM ROH KUDUS
 

BAB I: MARTABAT MANUSIA
 

ARTIKEL 7 * KEBAJIKAN

 

1803

"Jadi, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" (Flp 4:8). Kebajikan adalah suatu kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik. Ia memungkinkan manusia bukan hanya untuk melakukan perbuatan baik, melainkan juga untuk menghasilkan yang terbaik seturut kemampuannya.
Dengan segala kekuatan moral dan rohani, manusia yang berkebajikan berusaha untuk melakukan yang baik. Ia berusaha untuk mencapainya dan memilihnya dalam tindakannya yang konkret.

"Tujuan kehidupan yang berkebajikan ialah menjadi serupa dengan Allah" (Gregorius Nisa, beat. l).

1733, 1768


I. * Kebajikan Manusiawi

 

1804

Kebajikan manusiawi adalah sikap yang teguh, kecenderungan yang dapat diandalkan, kesempurnaan akal budi dan kehendak yang tetap, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita dan membimbing tingkah laku kita supaya sesuai dengan akal budi dan iman. Mereka memberi kepada manusia kemudahan, kepastian dan kegembiraan untuk menjalankan kehidupan moral secara baik. Manusia yang berkebajikan melakukan yang baik dengan sukarela.
Kebajikan moral diperoleh melalui usaha manusia. Ia adalah buah dan sekaligus benih untuk perbuatan baik secara moral; ia mengarahkan seluruh kekuatan manusia kepada tujuan, supaya hidup bersatu dengan cinta ilahi.

2500, 1827


Kebajikan Pokok [Kardinal]

 

1805

Empat kebajikan merupakan poros kehidupan moral. Karena itu orang menamakan mereka kebajikan "kardinal" [cardo berarti poros]; semua yang lain berada di sekeliling mereka. Mereka adalah kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri. "Kalau seorang mengasihi kebenaran, maka kebajikan adalah hasil jerih payah kebijaksanaan. Sebab ia mengajarkan menahan diri dan berhati-hati, keadilan dan kebenaran" (Keb 8:7). Kebajikan-kebajikan ini juga dipuji dalam banyak teks Kitab Suci dengan nama-nama yang lain.

 

1806

Kebijaksanaan adalah kebajikan yang membuat budi praktis rela, supaya dalam tiap situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. "Orang yang bijak memperhatikan langkahnya" (Ams 14:15). "Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa" (1 Ptr 4:7). "Kebijaksanaan ialah akal budi benar sebagai dasar untuk bertindak", demikian santo Tomas menulis (s.th. 2-2,47,2,sc) mengikuti Aristoteles. Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. Orang menamakan dia "auriga virtutum" [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran. Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati nurani. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atas situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan.

1788, 1780

 

1807

Keadilan sebagai kebajikan moral adalah kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka. Keadilan terhadap Allah dinamakan orang "kebajikan penghormatan kepada Allah" [virtus religionis]. Keadilan terhadap manusia mengatur, supaya menghormati hak setiap orang dan membentuk dalam hubungan antar manusia, harmoni yang memajukan kejujuran terhadap pribadi-pribadi dan kesejahteraan bersama. Manusia yang adil yang sering dibicarakan Kitab Suci, menonjol karena kejujuran pikirannya dan ketepatan tingkah lakunya terhadap sesama. "Janganlah engkau membeIa orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili sesamamu dengan kebenaran" (Im 19:15). "Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, karma juga mempunyai tuan di surga" (Kol 4:1).

2095, 2401

 

1808

Keberanian adalah kebajikan moral yang membuat tabah dalam kesulitan dan tekun dalam mengejar yang baik. Ia meneguhkan kebulatan tekad, supaya melawan godaan dan supaya mengatasi halangan-halangan dalam kehidupan moral. Kebajikan keberanian memungkinkan untuk mengalahkan ketakutan,juga ketakutan terhadap kematian dan untuk menghadapi segala percobaan dan penghambatan. Ia juga membuat orang reIa untuk mengurbankan kehidupan sendiri bagi suatu hal yang benar. "Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku" (Mzm 118:14). "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yoh 16:33).

2848, 2473

 

1809

Penguasaan diri adalah kebajikan moral yang mengekang kecenderungan kepada berbagai macam kenikmatan dan yang membuat kita mempergunakan benda-benda duniawi dengan ukuran yang tepat. Ia menjamin penguasaan kehendak atas kecenderungan dan tidak membiarkan kecenderungan melampaui batas-batas yang patut dihormati. Manusia yang menguasai diri mengarahkan kehendak inderawi-nya kepada yang baik, mempertahankan kemampuan sehat untuk menilai, dan berpegang pada kata-kata: "Jangan mengikuti setiap kecenderungan walaupun engkau mampu, dan jangan engkau mengikuti hawa nafsumu" (Sir 5:2) Bdk. Sir 37:27-31.. Kebajikan penguasaan diri sering dipuji dalam Perjanjian Lama: "Jangan dikuasai oleh keinginan-keinginanmu, tetapi kuasailah segala nafsumu" (Sir 18:30). Dalam Perjanjian Baru ia dinamakan "kebijaksanaan" atau "ketenangan". Kita harus hidup "bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia sekarang ini" (Tit 2:12).

"Hidup yang baik itu tidak lain dari mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap pikiran. (Oleh penguasaan diri) orang mencintai-Nya dengan cinta sempurna, yang tidak dapat digoyahkan oleh kemalangan apa pun (karena keberanian yang hanya mematuhi Dia (karena keadilan) dan yang siaga supaya menilai semua hal, supaya jangan dikalahkan oleh kelicikan atau penipuan (inilah kebijaksanaan)" (Agustinus, mor. Eccl. 1,25,46).

2341, 2517


Kebajikan dan Rahmat

 

1810

Kebajikan manusiawi yang diperoleh melalui pendidikan, melalui latihan, dan ketekunan dalam usaha, dimurnikan dan diangkat oleh rahmat ilahi. Dengan bantuan Allah mereka menggembleng watak dan memberi kemudahan dalam melakukan yang baik. Manusia yang berkebajikan bergembira dalam berbuat baik.

1266

 

1811

Bagi manusia yang telah dilukai oleh dosa memang tidak mudah untuk mempertahankan keseimbangan moral. Keselamatan yang dikaruniakan oleh Kristus memberi kita rahmat yang dibutuhkan supaya tabah dalam mengejar kebajikan. Tiap orang harus selalu memohon rahmat terang dan kekuatan, harus mencari bantuan dalam Sakramen-sakramen, harus bekerja sama dengan Roh Kudus dan mengikuti ajakan-Nya untuk mencintai yang baik dan bersikap waspada terhadap yang jahat.

2015


II. * Kebajikan Ilahi

 

1812

Kebajikan manusiawi berakar dalam kebajikan ilahi, yang memungkinkan kemampuan manusiawi mengambil bagian dalam kodrat ilahi Bdk. 2 Ptr 1:4.. Karena kebajikan ilahi langsung berhubungan dengan Allah. Mereka memungkinkan orang Kristen, supaya hidup dalam hubungan dengan Tritunggal Mahakudus. Mereka memiliki Allah yang Esa dan Tritunggal sebagai asal, sebab, dan obyek.

2086-2094, 2656-2658, 1266

 

1813

Kebajikan ilahi adalah dasar jiwa, dan tanda pengenal tindakan moral orang Kristen. Mereka membentuk dan menjiwai semua kebajikan moral. Mereka dicurahkan oleh Allah ke dalam jiwa umat beriman, untuk memungkinkan mereka bertindak sebagai anak-anak Allah dan memperoleh hidup abadi. Mereka adalah jaminan mengenai kehadiran dan kegiatan Roh Kudus dalam kemampuan manusia. Ada tiga kebajikan ilahi: iman, harapan, dan kasih Bdk. 1 Kor 13:13.;

2008

 

Iman
 

1814

Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman "manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah" (DV 5).
Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. "Orang benar akan hidup oleh iman" (Rm 1:17); Iman yang hidup "bekerja oleh kasih" (Gal 5:6).

142-175, 506

 

1815

Anugerah iman tinggal di dalam dia yang tidak berdosa terhadapnya. Bdk. Konsili Trente: DS 1545. Tetapi "iman tanpa perbuatan adalah mati" (Yak 2:26). Iman tanpa harapan dan kasih tidak sepenuhnya mempersatukan orang beriman dengan Kristus dan tidak menjadikannya anggota yang hidup dalam Tubuh-Nya.

 

1816

Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya; Semua orang harus "siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja " (LG 42) Bdk. DH 14.. Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan: "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga" (Mat 10:32-33).

2471

 

Harapan
 

1817

Harapan adalah kebajikan ilahi yang olehnya kita rindukan Kerajaan surga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan berharap kepada janji-janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan kita, tetapi bantuan rahmat Roh Kudus. "Marilah kita berpegang teguh kepada pengakuan tentang harapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya, setia" (Ibr 10:23). Allah telah "melimpahkan Roh Kudus kepada kita melalui Yesus Kristus, Juru Selamat kita, supaya kita, sebagai oranng yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima kehidupan abadi, sesuai dengan pengharapan kita" (Tit 3:6-7).

1024

 

1818

Kebajikan harapan itu sejalan dengan kerinduan akan kebahagiaan yang telah Allah letakkan di dalam hati setiap manusia. Ia merangkum harapan, yang menjiwai perbuatan manusia: ia memurnikannya, supaya mengarahkannya kepada Kerajaan surga; ia melindunginya terhadap kekecewaan; ia memberi kemantapan dalam kesepian; ia membuka hati lebar-lebar dalam menantikan kebahagiaan abadi. Semangat yang harapan berikan, membebaskan dari egoisme dan mengantar kepada kebahagiaan cinta kasih Kristen.

27

 

1819

Harapan Kristen mengambil alih dan memenuhi harapan umat terpilih, yang memiliki asal dan contohnya dalam harapan Abraham. Ia diberkati oleh Allah secara berlimpah melalui janji-janji yang terpenuhi dalam Ishak dan dibersihkan melalui ujian kurban Bdk. Kej 17:4-8; 22:1-18. "Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa" (Rm 4:18).

146

 

1820

Harapan Kristen dibentangkan langsung pada awal kotbah Yesus dalam sabda bahagia. Sabda bahagia mengarahkan harapan kita ke surga sebagai tanah terjanji yang baru; mereka menunjukkan jalan melalui percobaan-percobaan yang menantikan murid-murid Yesus. Tetapi oleh jasa Yesus Kristus dan sengsara-Nya, Allah mempertahankan kita dalam harapan; "tetapi harapan tidak mengecewakan" (Rm 5:5). "Di dalam dia kita memiliki sauh yang kuat dan aman bagijiwa kita", yang sampai ke tempat, "di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita" (Ibr 6:19-20). Ia juga merupakan senjata yang membeIa kita dalam perjuangan demi keselamatan kita: "Baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan" (1 Tes 5:8). Harapan memberi kepada kita kegembiraan dalam percobaan sekalipun: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan" (Rm 12:12). Ia mengungkapkan diri dalam dan dikuatkan oleh doa, terutama doa Bapa Kami, kesimpulan dari segala sesuatu yang kita rindukan dalam harapan.

1716, 2772

 

1821

Jadi kita dapat mengharapkan kemuliaan surga, yang Allah telah janjikan kepada mereka yang mencintai Dia Bdk. Rm 8:28-30.dan melakukan kehendak-Nya Bdk. Mat 7:21.. Dalam tiap situasi kita harus berharap, agar dengan rahmat Allah kita "dapat bertahan sampai akhir" Bdk. Mat 10:22; Konsili Trente: DS 1541. dan mendapat kegembiraan surga: ganjaran yang diberikan oleh Allah terhadap perbuatan baik yang dilaksanakan dengan rahmat Kristus. Dengan penuh harapan Gereja berdoa, supaya "semua orang diselamatkan" (1 Tim 2:4). Ia sangat merindukan, agar dipersatukan bersama Kristus, mempelai-Nya, dalam kemuliaan surga.

"Berharaplah, hai jiwaku, berharaplah! Engkau tidak mengetahui hari dan waktu. Berjaga- jagalah dengan penuh perhatian. Segala sesuatu berlalu dengan cepat, walaupun ketidaksabaranmu membuat hal yang pasti jadi diragukan dan membuat waktu yang singkat menjadi panjang. Ingatlah: semakin banyak engkau berjuang, semakin banyak engkau akan membuktikan cintamu kepada Allah dan pada suatu hari akan semakin banyak engkau bergembira dengan kekasihmu dalam satu kebahagiaan dan kegembiraan yang tidak pernah akan berakhir" (Teresia dari Yesus, excl. 15,3).

2016, 1037

 

Kasih
 

1822

Kasih adalah kebajikan ilahi, dengannya kita mengasihi Allah di atas segala-galanya demi diri-Nya sendiri dan karena kasih kepada Allah kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

1723

 

1823

Yesus membuat kasih menjadi suatu perintah baru Bdk. Yoh 13:43.. Karena Ia mengasihi orang-orang-Nya "sampai pada kesudahannya" (Yoh 13:1), Ia menyatakan kasih yang Ia terima dari Bapa-Nya. Melalui kasih satu sama lain para murid mencontoh kasih Yesus, yang mereka terima dari Dia. Karena itu Yesus berkata: Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu" (Yoh 15:9). Dan juga: "Inilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yoh 15:12).

1970

 

1824

Sebagai buah roh dan penyempurnaan hukum, kasih mematuhi perintah-perintah Allah dan Kristus. "Tinggallah di dalam kasih-Ku! Jikalau kamu menurut perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku" (Yoh 15:9-10) Bdk. Mat 22:40; Rm 13:8-10..

735

 

1825

Kristus telah wafat karena kasih terhadap kita, ketika kita masih "musuh" (Rm 5:10). Tuhan menghendaki agar kita mengasihi musuh-musuh kita menurut teladan-Nya (Mat 5:44), menunjukkan diri kita sebagai sesama kepada orang yang terasing Bdk. Luk 10:27-37., dan mengasihi anak-anak Bdk. Mrk 9:37. dan kaum miskin Bdk. Mat 25:40, 45..


Santo Paulus melukiskan gambaran mengenai kasih yang tidak ada tandingannya: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri: Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1 Kor 13:4-7).

604

 

1826

Rasul juga mengatakan: sekalipun aku memiliki segala sesuatu dan sanggup melaksanakan segala sesuatu, "tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna". Dan sekalipun aku mempunyai segala keistimewaan, pelayanan, dan juga kebajikan "tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku" (1 Kor 13:1-4). Kasih melebihi segala kebajikan. Ia adalah kebajikan ilahi yang paling utama: "Demikianlah tinggal ketiga hal ini yaitu iman, harapan, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih" (1 Kor 13:13).

 

1827

Pelaksanaan semua kebajikan ini dijiwai dan digerakkan oleh kasih. Inilah "pengikat yang menyatukan dan menyempumakan" (Kol 3:14); ia adalah pembentuk kebajikan; ia menentukan dan mengatur kebajikan-kebajikan; kasih Kristen mengamankan dan memurnikan kekuatan kasih manusiawi kita. Ia meninggikannya sampai kepada kesempurnaan adikodrati, kepada kasih ilahi.

815, 826

 

1828

Kehidupan moral yang dijiwai oleh kasih memberi kepada orang Kristen kebebasan anak-anak Allah. Di depan Allah ia tidak lagi bersikap sebagai seorang hamba dengan ketakutan yang merendahkan dan juga bukan sebagai seorang buruh harian yang ingin dibayar, melainkan sebagai seorang anak, yang memberi jawaban kepada kasih dari Dia, yang "lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yoh 4:19).

"Atau kita berpaling dari yang jahat, karena takut akan siksa, berarti kita bersikap sebagai seorang hamba. Atau kita ingat akan upah dan menjalankan perintah-perintah, karena keuntungan yang mengalir darinya; kita lalu menyerupai bunih harian. Atau kita taat demi kebaikan itu sendiri dan karena kasih kepada Dia, yang telah memberi hukum kepada kita... kita lalu bersikap sebagai putera-putera" (Basilius, reg. fus. prol. 3).

1972

 

1829

Buah kasih adalah kegembiraan, perdamaian, dan kerahiman; kasih menghendaki kemurahan hati dan teguran persaudaraan; ia adalah perhatian; ia ingin memberi dan menerima; ia tanpa pamrih dan murah hati; ia adalah persahabatan dan persekutuan.

"Penyempurnaan seluruh pekerjaan kita adalah kasih. Itulah tujuan yang karenanya kita berlari kepadanya, kita bergegas dan di dalamnya kita akan mengasoh, kalau kita telah mencapainya" (Agustinus, ep. Jo. 10,4).

2540


III.* Karunia dan Buah-buah Roh Kudus

 

1830

Kehidupan moral orang-orang Kristen ditopang oleh karunia-karunia Roh Kudus. Karunia ini merupakan sikap yang tetap, yang mencondongkan manusia, supaya mengikuti dorongan Roh Kudus.

 

1831

Ketujuh karunia Roh Kudus adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan rasa takut kepada Allah. Dalam seluruh kepenuhannya mereka adalah milik Kristus, Putera Daud Bdk. Yes 1-2.. Mereka melengkapkan dan menyempurnakan kebajikan dari mereka yang menerimanya. Mereka membuat umat beriman siap mematuhi ilham ilahi dengan sukarela.

"Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata" (Mzm 143:10).

"Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah ... Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris; kita adalah ahli waris Allah dan rekan ahli waris Kristus" (Rm 8:14.17).

1266, 1299

 

1832

Buah-buah Roh adalah kesempumaan, yang Roh Kudus hasilkan di dalam kita sebagai buah-buah sulung kemuliaan abadi. Tradisi Gereja menyebutkan dua belas macam: "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri, kerendahan hati, kesederhanaan, dan kemumian" (Gal 5:22-23 Vg.).

736


TEKS-TEKS SINGKAT

 

1833

Kebajikan adalah kecenderungan yang tetap dan teguh untuk melakukan yang baik.

 

1834

Kebajikan manusiawi adalah kecenderungan yang teguh dari akal budi dan kehendak, yang mengarahkan perbuatan kita, mengatur hawa nafsu kita, dan membimbing tingkah laku kita, supaya sesuai dengan akal budi. Mereka dapat dikelompokkan menurut empat kebajikan pokok: kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri.

 

1835

Kebijaksanaan memungkinkan budi yang praktis. supaya dalam semua situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk melaksanakannya.

 

1836

Keadilan terdiri dari kehendak yang tetap dan teguh untuk memberi kepada Allah dan sesama, apa yang menjadi hak mereka.

 

1837

Keberanian menyanggupkan untuk mengejar kebaikan dengan teguh dan tabah dalam kesulitan.

 

1838

Penguasaan diri mengekang kecenderungan kepada kenikmatan jasmani dan membuat kita mempertahankan ukuran yang wajar dalam penggunaan benda-benda yang diciptakan.

 

1839

Kebajikan moral tumbuh oleh pendidikan, latihan, dan usaha yang tabah. Rahmat ilahi memurnikannya dan meningkatkannya.

 

1840

Kebajikan ilahi memungkinkan seorang Kristen, hidup dalam persekutuan dengan Tritunggal Mahakudus. Allah adalah awal, sebab, dan obyeknya. Allah sendiri, yang dalam iman dikenal dan diharapkan dan demi diri-Nya sendiri dikasihi.

 

1841

Ada tiga kebajikan ilahi: iman, harapan, dan kasih Bdk. Kor 13:13.. Mereka membentuk dan menjiwai semua kebajikan moral.

 

1842

Melalui iman kita percaya akan Allah dan mengimani segala sesuatu yang telah Ia wahyukan dan yang disampaikan Gereja kudus kepada kita supaya dipercaya.

 

1843

Melalui harapan kita merindukan dan menantikan dari Allah dengan harapan teguh kehidupan abadi dan rahmat, kepercayaan untuk memperolehnya.

 

1844

Melalui kasih kita mengasihi Allah di atas segala-galanya dan karena kasih kepada-Nya kita mengasihi sesama kita seperti diri sendiri. Ia adalah "pengikat kesempurnaan" (Kol 3:14) dan pembentuk segala kebajikan.

 

1845

Ketujuh karunia Roh Kudus yang diberi kepada orang Kristen adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan rasa takut kepada Allah.

 

<<Prev   - Indeks -   Next>>